Pertamina Percepat Pengembangan Energi Terbarukan di Tengah Gejolak Energi Dunia


Jakarta - PT Pertamina (Persero) terus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang memengaruhi stabilitas pasokan serta harga energi dunia.

Komitmen tersebut disampaikan Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, di Jakarta, Jumat (3/4/2026). Ia menyebut pengembangan EBT menjadi langkah strategis perusahaan dalam mendukung target pemerintah melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menuju masa depan energi yang berkelanjutan.

“Dinamika geopolitik global memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi fosil. Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat bauran energi melalui pengembangan energi baru terbarukan. Upaya ini tidak hanya meningkatkan independensi energi nasional, tetapi juga menjadi bagian dari penyediaan energi yang lebih bersih bagi lingkungan,” ujar Baron.

Hingga akhir 2025, Pertamina tercatat telah menghasilkan energi bersih sebesar 8.743 gigawatt hour (GWh) dari berbagai sumber energi rendah karbon. Salah satu sumber utama berasal dari panas bumi atau Geothermal Energy yang dimanfaatkan untuk berbagai pembangkit listrik dengan total kapasitas terpasang mencapai 3.271 megawatt (MW).

Kapasitas tersebut berasal dari berbagai sumber energi, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) sebesar 2,4 MW, proyek Gas to Power dari Jawa Satu Power sebesar 1.760 MW, Gas to Power dari Pertamina Power Indonesia sebesar 12,9 MW, energi surya dari Pertamina Power Indonesia sebesar 55,3 MW, serta pembangkit listrik panas bumi sebesar 772,5 MW.

Selain itu, melalui subholding Pertamina New & Renewable Energy, Pertamina juga memiliki kepemilikan saham pada perusahaan energi terbarukan Filipina, Citicore Renewable Energy Corporation, yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas mencapai 669,3 MW.

Pengembangan energi bersih tidak hanya difokuskan pada sektor industri dan komersial, tetapi juga menyasar pemberdayaan masyarakat. Hingga saat ini, Pertamina telah membangun 252 program Desa Energi Berdikari (DEB) di berbagai wilayah Indonesia.

Program tersebut mengembangkan berbagai sumber energi terbarukan seperti panel surya, mikrohidro, biogas, serta teknologi energi bersih lainnya untuk mendukung kemandirian energi masyarakat desa.

Baron menambahkan, pemanfaatan energi transisi di tingkat desa tidak hanya meningkatkan ketahanan energi lokal, tetapi juga mampu menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dari total lokasi tersebut, sebanyak 156 Desa Energi Berdikari tercatat mampu memproduksi sekitar 15,8 ribu ton bahan pangan beras serta 890,4 ton bahan pangan nonberas, sehingga turut berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Ke depan, Pertamina berkomitmen memperluas berbagai inisiatif berbasis energi bersih sekaligus pemberdayaan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus membantu Indonesia menghadapi tantangan perubahan iklim.

Sebagai perusahaan yang berperan dalam transisi energi, Pertamina juga menargetkan pencapaian Net Zero Emission 2060 serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Seluruh upaya tersebut dijalankan melalui transformasi perusahaan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina. 

© Copyright 2022 - Wartabisnis.id | Bisnis Mendunia