Breaking News

Pasokan BBM ke Pertashop Terlambat Padahal Jadi Andalan Sumber Energi Masyarakat


Bengkulu - Sejumlah pengelola Pertashop mengeluhkan keterlambatan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Pertamina. Jika sebelumnya pengiriman dapat dilakukan satu hari setelah pemesanan (H+1), kini pasokan BBM ke Pertashop rata-rata baru diterima dua hari bahkan lebih setelah pemesanan dilakukan.

Pengelola Pertashop di Kecamatan Air Rami, Kabupaten Mukomuko, Riki Simanjuntak mengatakan, sejak awal membuka Pertashop pada 2022, pengiriman BBM biasanya dilakukan H+1 setelah pemesanan. Artinya, jika pemesanan dilakukan hari ini, maka keesokan harinya BBM sudah diantar ke lokasi.

“Kalau dulu itu sistemnya H+1. Hari ini kita pesan, besok diantar. Tapi sekarang rata-rata H+2. Bahkan saya dengar dari teman-teman ada yang sampai H+3, bahkan H+5 belum juga dikirim,” ujar Riki.

Ia menilai keterlambatan tersebut juga dipengaruhi meningkatnya permintaan pasar terhadap BBM. Saat ini kebutuhan BBM diperkirakan mencapai sekitar 200 kiloliter (KL) lebih, sementara kemampuan pengiriman yang dilakukan baru berada di kisaran 90 KL. Kondisi ini membuat pasokan ke sejumlah Pertashop menjadi tersendat.

Riki mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab keterlambatan tersebut, apakah disebabkan oleh proses distribusi atau kendala transportasi. Namun menurutnya, ketersediaan stok BBM di tingkat Pertamina dinilai masih cukup aman.

Menurutnya, keberadaan Pertashop sangat penting bagi masyarakat, terutama di daerah yang jauh dari SPBU. Di wilayah Air Rami sendiri, jarak ke SPBU terdekat mencapai sekitar 22 kilometer sehingga masyarakat sangat bergantung pada Pertashop untuk mendapatkan BBM.

“Kalau Pertashop kosong, masyarakat terpaksa ke SPBU yang jaraknya jauh. Akhirnya terjadi penumpukan antrean di SPBU dan terlihat seperti panic buying. Padahal sebenarnya karena Pertashop tidak memiliki stok,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterlambatan pasokan juga berdampak langsung kepada masyarakat karena mereka harus membeli BBM eceran dengan harga lebih mahal atau mengeluarkan biaya tambahan untuk pergi ke SPBU.

Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI), Steven, menjelaskan bahwa Pertashop memiliki peran penting sebagai titik pengisian BBM alternatif yang memudahkan masyarakat mendapatkan bahan bakar tanpa harus menempuh jarak jauh.

“Di jalur lintas, Pertashop hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan BBM berkualitas tanpa harus menempuh jarak jauh ke SPBU,” jelasnya.

Menurut Steven, selain memperluas akses distribusi, Pertashop juga menyediakan BBM berkualitas, salah satunya Pertamax yang dikenal memiliki kualitas lebih baik bagi mesin kendaraan. Bahkan di beberapa daerah, harga Pertamax di Pertashop dinilai lebih terjangkau dibandingkan di SPBU.

Di Bengkulu, misalnya, harga Pertamax di Pertashop sekitar Rp12.300 per liter, sementara di SPBU mencapai Rp12.600 per liter. Hal ini dinilai dapat membantu masyarakat menekan biaya perjalanan, terutama saat periode mudik Lebaran.

“Kami ingin masyarakat mendapatkan layanan yang mudah dijangkau dengan harga yang lebih terjangkau. Ini merupakan bentuk komitmen Pertashop dalam mendukung kelancaran arus mudik,” kata Steven.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kelancaran layanan Pertashop sangat bergantung pada distribusi BBM dari PT Pertamina (Persero). Oleh karena itu, HPMPI berharap Pertamina dapat memastikan pasokan bahan bakar tetap stabil, terutama saat momentum mudik Lebaran.

 “Dengan distribusi yang lancar, kami yakin kebutuhan BBM masyarakat selama mudik dapat terpenuhi dengan baik. Ini demi kenyamanan dan keselamatan perjalanan masyarakat Indonesia,” tutup Steven.

© Copyright 2022 - wartabisnis.id