Dari lima peserta tersebut, empat orang berasal dari Provinsi Bengkulu dan satu orang dari Pulau Jawa. Setibanya di Hokkaido, mereka langsung dibagi menjadi dua kelompok penempatan kerja berdasarkan kemampuan bahasa Jepang serta kesiapan beradaptasi di lingkungan kerja masing-masing.
Kelompok pertama yang terdiri dari Yazied, Dwi, dan Yosadi ditempatkan di sebuah hotel berbintang tiga di kawasan Susukino, yang dikenal sebagai pusat kota Sapporo dengan aktivitas yang padat. Sementara itu, kelompok kedua yakni Gandra dan Hasyim ditempatkan di hotel berbintang tiga di kawasan Nakajima Koen yang memiliki suasana lebih tenang dan relatif jauh dari pusat keramaian.
Perwakilan JPM di Jepang, Reni, menjelaskan bahwa kelima tenaga kerja tersebut akan bertugas sebagai hotel housekeeper dengan tanggung jawab utama pada bagian bed making atau penataan dan perapian tempat tidur sesuai standar operasional hotel.
Ia menambahkan, para pekerja asal Bengkulu tersebut juga akan menghadapi persaingan dengan pekerja paruh waktu dari warga lokal Jepang serta mahasiswa asal Nepal yang bekerja di sektor yang sama. Karena itu mereka diharapkan mampu menunjukkan kinerja yang baik dan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Menurut Reni, para pekerja yang baru datang biasanya memulai karier dari tahap dasar atau shitazumi, yakni proses meniti pekerjaan dari level paling bawah sebelum mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar.
Selain itu, mereka juga didorong untuk terus meningkatkan kemampuan, terutama dalam bahasa Jepang baik lisan maupun tulisan, serta kualitas kerja yang mencakup kebersihan, kecepatan, dan ketepatan dalam menjalankan tugas.
Apabila mampu melampaui standar operasional yang ditetapkan, para pekerja berpeluang mendapatkan tanggung jawab tambahan seperti menjadi floor leader atau supervisor yang mengelola satu lantai hotel. Pengembangan karier di sektor ini terbuka melalui sistem berbasis kompetensi dan pencapaian kerja.
Reni menegaskan bahwa peningkatan gaji maupun jabatan tidak diberikan secara otomatis, melainkan dicapai melalui peningkatan kapasitas, sertifikasi, serta kemampuan individu masing-masing.
“Kami juga menekankan agar peserta tidak terjebak dalam zona nyaman. Jam kerja di Sapporo relatif lebih singkat dibandingkan Tokyo, sehingga masih ada waktu yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan kompetensi lainnya,” ujar Reni. (dri)

Social Header