Naikan BI-Rate Jadi Strategi Jaga Rupiah dan Kendalikan Inflasi


Bengkulu – Bank Indonesia kembali menyesuaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional. Kebijakan tersebut dilakukan untuk memperkuat nilai tukar rupiah di tengah tekanan global sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan kenaikan BI-Rate menjadi instrumen penting untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah tren kenaikan suku bunga yang juga dilakukan banyak bank sentral dunia.

Menurutnya, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu prioritas utama. Dengan suku bunga yang kompetitif, investasi pada surat berharga Indonesia tetap menarik sehingga aliran modal asing dapat terjaga dan tekanan terhadap rupiah dapat diminimalkan.

Selain menjaga kurs, kebijakan tersebut juga ditujukan untuk mengendalikan inflasi. Wahyu menjelaskan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi, terutama pada sektor usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor. Kondisi itu dapat berujung pada kenaikan harga barang dan jasa di tingkat konsumen.

Ia menyebut terdapat sejumlah faktor yang mendorong tingginya permintaan dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Di antaranya kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik, pembayaran dividen kepada investor asing, serta kebutuhan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

Kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan tambahan karena Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan energi. Transaksi minyak yang menggunakan dolar AS membuat permintaan mata uang tersebut meningkat sehingga berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, Wahyu menilai Bengkulu memiliki potensi untuk membantu memperkuat perekonomian melalui sektor komoditas unggulan yang berorientasi ekspor. Sektor hortikultura yang terus berkembang juga dinilai dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Terkait inflasi daerah, Bank Indonesia mencatat inflasi Bengkulu pada Mei 2026 mencapai 0,86 persen. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh kelompok pangan bergejolak atau volatile food, khususnya komoditas cabai yang mengalami lonjakan harga.

Memasuki Juni 2026, Bank Indonesia melihat tren harga mulai lebih terkendali. Berdasarkan pemantauan lapangan, sejumlah komoditas pangan menunjukkan pergerakan yang lebih stabil dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski belum menyampaikan proyeksi angka inflasi secara rinci, Wahyu memperkirakan inflasi Juni akan lebih rendah dibandingkan Mei. Ia menegaskan angka resmi tetap menunggu rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS). 

© Copyright 2022 - Wartabisnis.id | Bisnis Mendunia