Cabai Merah, Bensin, dan Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Inflasi Bengkulu


Bengkulu – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 3,96 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,83. Dari dua daerah penghitungan inflasi di Bengkulu, Kabupaten Mukomuko mencatat inflasi lebih tinggi dibandingkan Kota Bengkulu.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu, Win Rizal, mengatakan berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 41/07/17/Th. XXVIII yang dirilis pada 1 Juli 2026, inflasi tahunan di Kabupaten Mukomuko mencapai 5,02 persen dengan IHK sebesar 110,91. Sementara itu, Kota Bengkulu mengalami inflasi 3,61 persen dengan IHK sebesar 110,80.

"Inflasi tahunan di Provinsi Bengkulu dipengaruhi oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Hampir semua kelompok mengalami peningkatan indeks harga dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Win Rizal.

Kelompok pengeluaran yang mencatat kenaikan tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,01 persen, disusul makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,39 persen, serta transportasi sebesar 3,90 persen. 

Kenaikan juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,54 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,30 persen, perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga sebesar 1,80 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 1,69 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,55 persen, pendidikan sebesar 1,29 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,93 persen, serta kesehatan sebesar 0,25 persen.

Menurut Win Rizal, sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Bengkulu. Di antaranya cabai merah, emas perhiasan, bensin, daging ayam ras, angkutan udara, sigaret kretek mesin (SKM), minyak goreng, ikan dencis, bahan bakar rumah tangga, dan beras.

Sementara itu, beberapa komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi tahunan, yaitu santan segar, tarif rumah sakit, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, popok bayi sekali pakai, sepatu anak, daun singkong, krim wajah, pembalut wanita, baju muslim wanita, serta tempe.

Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month atau m-to-m) Provinsi Bengkulu pada Juni 2026 sebesar 0,38 persen. Adapun inflasi tahun kalender (year-to-date atau y-to-d) hingga Juni 2026 tercatat sebesar 1,77 persen.

Komoditas yang paling dominan mendorong inflasi bulanan antara lain bensin, tomat, bahan bakar rumah tangga, mainan anak, ketupat atau lontong sayur, soto, bawang putih, kursi, minyak goreng, dan pasir.

Sebaliknya, komoditas yang menahan laju inflasi atau memberikan andil terhadap deflasi bulanan meliputi ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, cabai merah, daging ayam ras, sepatu anak, angkutan udara, udang basah, ikan tuna, santan segar, terong, serta pembalut wanita.

Win Rizal menjelaskan, perkembangan inflasi menjadi salah satu indikator penting dalam memantau stabilitas harga di daerah. BPS akan terus memantau pergerakan harga berbagai komoditas strategis sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi di Provinsi Bengkulu.

© Copyright 2022 - Wartabisnis.id | Bisnis Mendunia