![]() |
| Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat. |
Bengkulu - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dapat menjadi peluang strategis bagi pertumbuhan ekonomi daerah apabila dimanfaatkan secara tepat. Di tengah kurs rupiah yang menembus sekitar Rp17.675 per dolar AS, Bengkulu dinilai memiliki potensi besar memperkuat ekspor dan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
Menurut Wahyu, kondisi pelemahan rupiah memang menimbulkan tantangan seperti imported inflation atau kenaikan harga barang impor. Namun di sisi lain, situasi tersebut juga meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
“Kalau kursnya melemah, memang ada dampak seperti imported inflation atau kenaikan harga barang impor. Tapi di sisi lain, ini membuat daya saing barang ekspor kita jadi lebih kompetitif di pasar global,” ujar Wahyu di Bengkulu, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan Bengkulu memiliki sejumlah komoditas unggulan yang berpotensi besar mendongkrak ekspor, seperti crude palm oil (CPO), batu bara, kopi, teh, serta berbagai produk khas daerah lainnya yang memiliki pasar internasional.
Selain komoditas utama, Bengkulu juga dinilai memiliki produk ekspor bernilai unik seperti lintah medis, kerajinan kain perca, batik khas Bengkulu, hingga gaharu yang permintaannya terus meningkat di pasar luar negeri.
“Kesempatannya sangat terbuka luas. Momentum ini harus dimanfaatkan eksportir kita untuk meningkatkan kuota ekspor dan memperluas pasar. Kuncinya ada pada inovasi, kreativitas, dan menjaga standar kualitas produk,” katanya.
Tak hanya sektor perdagangan, Wahyu juga menilai pariwisata Bengkulu berpotensi memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah. Dengan kurs dolar yang lebih tinggi, wisatawan asing memiliki daya beli lebih besar saat berkunjung ke Indonesia, termasuk ke Bengkulu.
Kondisi ini dinilai dapat menjadi peluang bagi daerah untuk memperkuat promosi destinasi wisata serta meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian lokal.
Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap dampak pelemahan rupiah, BI Bengkulu memastikan inflasi daerah masih dalam kondisi terkendali. Wahyu menyebut tekanan inflasi terbesar justru berasal dari sektor pakaian, bukan bahan pangan utama.
Ia menegaskan pasokan pangan lokal, terutama beras, masih aman melalui dukungan program stabilisasi pasokan pemerintah sehingga masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.
“Sepanjang kita bisa berproduksi sendiri, sebenarnya tidak ada kaitannya antara kenaikan dolar dengan harga pangan lokal. Bahkan untuk komoditas seperti pupuk, kita mencukupi dan bisa ekspor ke Australia,” jelasnya.
Wahyu juga menyoroti praktik sebagian pedagang yang menjadikan kenaikan dolar sebagai alasan menaikkan harga pangan lokal. Menurutnya, alasan tersebut tidak sepenuhnya relevan selama biaya distribusi domestik masih stabil.
“Kalau input BBM yang digunakan untuk transportasi distribusi tidak naik, tidak ada alasan untuk menaikkan harga sayur atau pangan lokal. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena semua komponen produksi di dalam negeri masih terjaga dan terkendali,” tegasnya.
Bank Indonesia Bengkulu pun mendorong pelaku usaha daerah agar lebih agresif memanfaatkan momentum nilai tukar ini melalui peningkatan kualitas produk, diversifikasi pasar, dan penguatan sektor pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di Provinsi Bengkulu.




Social Header