Destita mengapresiasi BPK Bengkulu yang memilih kediaman almarhum Alcala Zamora sebagai lokasi kegiatan untuk mengenalkan dan melestarikan Kain Besurek. Menurutnya, rumah maestro tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang dapat dikembangkan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kain Besurek merupakan salah satu budaya Bengkulu yang perlu kita jaga dan lestarikan, terutama dari generasi muda. Harapannya kegiatan seperti ini bisa berkelanjutan dan berkesinambungan,” kata Anggota Komite III itu.
Ia menilai pengembangan rumah maestro menjadi galeri seni juga dapat memberikan manfaat lebih luas bagi Kota Bengkulu. Selain menjadi ruang untuk memperkenalkan karya dan sejarah Kain Besurek, keberadaan galeri tersebut berpotensi mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Destita mengatakan rencana tersebut perlu ditindaklanjuti bersama Pemerintah Kota Bengkulu dan pihak terkait. Menurutnya, aset budaya yang sudah ada perlu dioptimalkan agar tidak hanya menjadi tempat tinggal atau peninggalan, tetapi dapat menjadi ruang publik yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Kepala BPK Wilayah VII Bengkulu Iskandar Mulia Siregar mengatakan pemilihan rumah almarhum Alcala Zamora sebagai lokasi kegiatan memang diarahkan untuk menghidupkan kembali ruang seni tersebut. Ia berharap kegiatan internalisasi kria dan wastra dapat menjadi bagian dari upaya menjadikan rumah maestro sebagai galeri seni Kota Bengkulu.
“Yang luar biasa kali ini adalah lokusnya. Kita tetapkan di rumah maestro Kain Besurek kita, dengan harapan selain internalisasi terlaksana, ini juga menjadi aktivasi untuk menjadikan rumah beliau sebagai galeri seni Kota Bengkulu,” ujar Iskandar.
Asisten Setda Pemerintah Kota Bengkulu Tony Alfian menyambut baik gagasan tersebut. Ia mengatakan rumah almarhum Alcala Zamora memiliki nilai penting sebagai bagian dari jejak karya seorang maestro yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tony menyebut Pemkot Bengkulu akan membahas langkah lanjutan terkait pemanfaatan rumah tersebut bersama pihak keluarga dan pemangku kepentingan. Menurutnya, lokasi itu dapat dikembangkan sebagai ruang seni sekaligus destinasi wisata budaya yang memiliki ciri khas tersendiri.
“Ini bisa menjadi tempat destinasi wisata karena berbeda dari yang lain. Langkah ke depan perlu kita bicarakan bersama, termasuk bagaimana rumah ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umum,” kata Tony.
Ahli waris sekaligus adik almarhum Alcala Zamora, Ir. Ahmad Nezar, mengatakan pihak keluarga terbuka terhadap rencana menjadikan rumah tersebut sebagai galeri seni. Ia menyebut gagasan itu sebenarnya merupakan cita-cita almarhum semasa hidup.
“Ini sebenarnya cita-cita almarhum dulu mau dijadikan galeri. Kami minta kalau bisa Pemerintah Kota, terutama, menjadikan ini galeri,” ujar Ahmad.
Ahmad menegaskan, pihak keluarga tidak bermaksud menyerahkan rumah dan lahan tersebut secara cuma-cuma. Namun, keluarga membuka peluang adanya pengalihan atau pemanfaatan dengan penawaran yang layak, termasuk lahan di sebelah rumah yang dapat digunakan untuk kebutuhan parkir.
Menurut Ahmad, pihak keluarga juga bersedia menyerahkan berbagai peninggalan dan koleksi karya almarhum untuk mendukung keberadaan galeri tersebut. Koleksi itu, kata dia, tidak semata-mata dinilai berdasarkan rupiah karena memiliki nilai sejarah dan menjadi bagian dari warisan karya almarhum.
“Peninggalan-peninggalan beliau pun akan diserahkan. Tidak dihitung rupiah seperti itu, kami secara keseluruhan saja,” katanya.
Ahmad mengatakan kondisi rumah hingga kini masih dirawat meski almarhum telah meninggal dunia. Perawatan dilakukan dengan bantuan tetangga yang secara rutin membersihkan rumah, merawat tanaman, serta memastikan lampu dan kondisi rumah tetap terjaga.
Ia menyebut sebagian besar karya dan barang peninggalan almarhum masih berada di rumah tersebut. Koleksi yang tersisa antara lain lukisan, berbagai barang karya seni, serta sejumlah patung yang menjadi bagian penting dari perjalanan almarhum sebagai seniman.



Social Header