Hingga akhir 2025, Bank Bengkulu membukukan laba bersih sebesar Rp135,146 miliar, meningkat 34,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan keberhasilan transformasi bisnis yang dijalankan manajemen dalam memperkuat kinerja dan daya saing di tengah dinamika ekonomi.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Bank Bengkulu, Iswahyudi, mengatakan peningkatan laba tersebut didorong oleh kinerja penyaluran kredit yang semakin baik, efisiensi operasional, serta pengelolaan struktur pendanaan yang lebih terarah.
Menurutnya, perusahaan juga berhasil meningkatkan pendapatan operasional sekaligus menekan biaya secara efektif. Hal ini tercermin dari penurunan rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dibandingkan tahun sebelumnya.
“Peningkatan laba ini menunjukkan bahwa transformasi yang kami jalankan bukan hanya konsep, tetapi telah menjadi kinerja nyata yang terukur,” ujar Iswahyudi.
Dari sisi aset, Bank Bengkulu juga mencatat pertumbuhan yang positif. Hingga akhir 2025, total aset bank ini mencapai Rp11,19 triliun, naik 8,06 persen yoy dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh 5,45 persen yoy menjadi Rp7,81 triliun. Portofolio kredit masih didominasi oleh sektor konsumtif aparatur sipil negara (ASN) yang relatif stabil, namun bank mulai mendorong ekspansi kredit ke berbagai sektor ekonomi lainnya.
“Ke depan kami akan memperbesar penetrasi kredit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Strategi menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) tetap sehat dilakukan melalui credit scoring berbasis data digital serta pendampingan berkelanjutan kepada debitur,” jelasnya.
Dari sisi permodalan, Bank Bengkulu juga berada dalam posisi yang sangat kuat. Hingga akhir 2025, Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat mencapai 25,11 persen, memberikan ruang ekspansi yang luas sekaligus menjadi bantalan menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Kinerja tersebut turut tercermin pada rasio profitabilitas. Return on Assets (ROA) Bank Bengkulu mencapai 1,64 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) berada di level 9,51 persen, menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan imbal hasil yang sehat dan kompetitif.
Iswahyudi menegaskan, prinsip kehati-hatian tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan perusahaan.
“Kami memastikan pertumbuhan ini berkelanjutan dengan menerapkan prinsip prudent banking. Kami tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas,” tegasnya.
Kinerja yang solid tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan diraihnya predikat The Best 20 BPD Awards dengan skor 92,46 pada ajang Infobank TOP BUMD Awards 2026.
Menurut Iswahyudi, penghargaan ini menjadi validasi bahwa strategi transformasi yang dijalankan Bank Bengkulu telah berada di jalur yang tepat.
“Bagi kami, capaian ini bukan sekadar penghargaan, tetapi bukti bahwa strategi efisiensi, digitalisasi, dan penguatan tata kelola yang kami jalankan sudah berada di jalur yang benar,” katanya.
Sebagai bank milik daerah, Bank Bengkulu juga terus memperkuat perannya dalam mendukung pembangunan daerah. Sinergi dengan pemerintah daerah dinilai menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dengan modal inti mencapai Rp1,453 triliun, Bank Bengkulu telah menyiapkan roadmap pengembangan bisnis yang mencakup investasi teknologi informasi, percepatan transformasi digital, pengembangan produk baru, serta ekspansi kredit ke sektor produktif.
Selain itu, pengembangan layanan digital juga terus dilakukan, termasuk penyempurnaan aplikasi mobile banking dengan fitur yang lebih lengkap seperti integrasi pembayaran publik dan akses pembiayaan mikro secara digital.
“Tujuan kami adalah menjadikan Bank Bengkulu sebagai mitra pembangunan daerah yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan dalam tiga hingga lima tahun ke depan,” tutup Iswahyudi.

Social Header